Merauke. Matapapua.com - Pakar politik sekaligus Direktur NSL Political Consultant and Strategic Champaign, Nasarudin Sili Luli, memberikan analisanya soal penetapan tersangka mantan Jampidsus Febrie Adriansyah dalam kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang atau TPPU.
Dalam kesempatan itu, ia mengaitkan, penetapan tersangka Febrie Adriansyah dengan kajian sosiologi organisasi tertutup. Menurutnya, keheningan sering kali menjadi mata uang yang lebih berharga daripada loyalitas formal.
“Selama semua pihak tetap diam, hubungan antarpelaku, aliran kepentingan, dan struktur perlindungan dapat terus bekerja tanpa gangguan. Oleh karena itu, ancaman terbesar bagi jaringan tertutup bukanlah penyelidik dari luar, melainkan kemungkinan seseorang di dalam mulai mengirimkan sinyal mengenai keberadaan pihak lain,” kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat, 17 Juli 2026.
Dalam konteks itulah, kata dia, perdebatan mengenai kepingan pernyataan eks Jampidsus Febrie Adriansyah menjadi menarik dibaca sebagai fenomena politik kekuasaan.
Ia menyinggung bait konferensi pers, Febrie yang mengakui rumah digeledah adalah miliknya namun mengatakan satu frasa kunci bahwa harta yang ada di dalamnya ada pemiliknya.
“Yang mengindikasikan bukan dirinya sang empunya. Bukan semata-mata soal benar atau salahnya suatu klaim, melainkan mengenai makna simbolik dari sebuah pernyataan yang dapat ditafsirkan sebagai pengakuan bahwa terdapat aktor lain di luar dirinya,” tegas dia.
Dalam logika politik, lanjut dia, persoalan utama bukanlah informasi diungkapkan melainkan sebuah fakta bahwa batas kesunyian mulai bergeser. Di sinilah sumpah dalam diam menjadi relevan sebagai lensa analisis.
“Ia tidak hanya hidup dalam organisasi kriminal. Dalam berbagai bentuk jaringan patronase, oligarki, kartel ekonomi, hingga lingkaran kekuasaan politik, selalu terdapat norma tidak tertulis yang mengatur sejauh mana seseorang boleh berbicara dan sejauh mana ia harus tetap diam,” beber dia.
Lebih jauh, ia menegaskan, saat norma tersebut mulai retak yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi individu, tetapi stabilitas seluruh jaringan yang selama ini menopangnya. “Lantas, mengapa lensa analisis tersebut dapat dikatakan relevan?,” jelas dia.
Nasarudin pun menjelaskan bahwa anggota suatu organisasi pada dasarnya memiliki tiga pilihan ketika menghadapi tekanan, tetap setia, menyampaikan suara, atau keluar dari sistem. “Dalam jaringan kekuasaan yang tertutup, loyalitas bukan hanya berarti mendukung organisasi, tetapi juga menjaga disiplin diam yang melindungi semua pihak,” jelas dia.
Dari perspektif ini, setiap sinyal yang mengarah pada keberadaan aktor lain dapat dibaca sebagai perubahan posisi dari loyalty menuju voice.
“Yang menjadi persoalan bukan apakah informasi tersebut lengkap atau tidak, melainkan munculnya persepsi bahwa seseorang tidak lagi sepenuhnya berada dalam koridor kesunyian yang sama,” beber dia.
0
Ia menegaskan, fenomena Febri ini menjelaskan mengapa banyak jaringan kekuasaan tampak kuat dari luar tetapi rapuh dari dalam. Selama semua pihak mematuhi aturan diam, solidaritas terlihat kokoh.
“Namun begitu muncul indikasi bahwa seseorang mulai berbicara, tingkat kepercayaan antarpihak dapat berubah secara drastis.
“Dalam dunia patronase, persepsi sering kali lebih penting daripada fakta. Sekadar kemungkinan bahwa seseorang dapat membuka pintu menuju informasi yang lebih besar sudah cukup untuk mengubah kalkulasi politik banyak aktor,” pungkas dia.